Golden City Bekasi

Golden City Bekasi

Satu lagi perumahan menengah baru di Kota Bekasi, namanya Golden City, di Jl Raya Kaliabang. Untuk tahap awal, developer memasarkan cluster Greenwood.  Semua rumahnya dua lantai dan dirancang Niken Gun Ho Architect bergaya modern dengan aksen boks aluminium di balkonnya.

Tipe  rumah yang dipasarkan ada tiga. Paling kecil adalah tipe Cedar,  dilengkapi kamar 3+1  dengan  luas bangunan 69 m2 dan kaveling 6 x 12 m. Kedua, tipe Oakwood memiliki luas bangunan 86 m2 dan kaveling 7×13,5 m. Kemudian ketiga, tipe Redwood yang merupakan tipe paling besar luas bangunannya 133  m2  dengan kamar 4+1, dan dibangun di atas kaveling ukuran 8×15 m. “Harga rumah mulai Rp600 jutaan hingga Rp1,1 miliar,” ujar Budi Santoso Tjoe, Direktur Marketing Yanadito Santosa Anugerah KSO  (member of GNA Group), developer Golden City.

Keistimewaan cluster Green Wood kavelingnya ditinggikan 1 m dari permukaan jalan agar aman dari ancaman banjir. Akses menuju ke perumahan  juga sangat mudah. Dari kawasan perkantoran di koridor TB Simatupang (Jakarta Selatan) dapat dijangkau melalui tol Jakarta Outer Ring Road  (JORR) dan tol Jakarta-Cikampek exit di pintu Bekasi Barat. Dari kawasan CBD Jakarta melalui tol dalam kota dan tol Jakarta-Cikampek exit di pintu Bekasi Barat. Sementara dari kawasan bisnis Kelapa Gading (Jakarta Utara) melalui Jl Perintis Kemerdekaan dan Jl Raya Bekasi (Jl Sri Sultan HB IX)  belok kiri di pertigaan Aqua dekat Kota Harapan Indah. “Dari pertigaan Aqua sekitar enam kilometer,” katanya. Sedangkan dari Kelapa Gading jaraknya kurang lebih 16 km.

Menurut Gregorius Gun Ho, Direktur Utama Yanadito Santosa Anugerah KSO,  ke depan perumahannya ini akan semakin strategis menyusul adanya rencana pemerintah setempat melebarkan Jl Raya Kaliabang menjadi RoW 30 m pada tahun 2015.

Developer juga telah mengantisipasi rencana tersebut dengan merencanakan pengembangan proyek seluas 30 ha ini menjadi kawasan terpadu. Tahap pertama akan dibangun perumahan di atas lahan seluas 5,5 ha. Kemudian tahap berikutnya akan menyusul pusat kuliner dan gaya hidup  di atas lahan seluas 2,5 ha, kompleks ruko eksklusif 2,5 ha,  6-8 tower apartemen di lahan seluas 6 ha, bisnis dan perkantoran 5 ha, serta kawasan wisata air dan gedung serbaguna berkapasitas 3,000 orang di lahan seluas 2,5 ha. “Selain itu kami juga akan membangun kolam pemancingan berikut restoran di atas kolam di lahan sepanjang 1,000 x70 m yang diapit oleh dua jalan,” kata Budi

Untuk menambah kenyamanan suasana lingkungan perumahan didesain hijau.  Salah satunya membuat taman sepanjang 300 m dengan lebar 13 m di tengah-tengah kawasan yang diapit oleh dua jalan lingkungan masing-masing selebar RoW 6 m. Developer akan menjadikan taman ini sebagai taman aktif  yang dilengkapi jogging track, dan area bermain anak.

Menurut Gun Ho, perumahan akan dilengkapi sejumlah fasilitas seperti: sport club, kolam renang dewasa dan anak-anak, sistem keamanan 24 jam yang ditunjang perangkat CCTV kawasan, jaringan WiFi, panic bottom di setiap rumah, dan lain sebagainya. Housing-Estate.com

 

Informasi Lebih Lanjut Silakan Klik :   Golden City Bekasi

Rumah Golden City Bekasi

Harvest Bintaro Residence

DESKRIPSI PERUMAHAN

Harvest Bintaro Residence Meneruskan Sukses dan juga respon positive untuk Project Perumahan Kami sebelumnya yang berlokasi di Jl. WR. Supratman No 88, Kp. Utan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, yang dikenal dengan nama Perumahan Harvest Residence, maka Kami kini kembali mencoba menawarkan lokasi terbaru untuk Project terbaru Kami yang di beri nama Perumahan Harvest Bintaro Residence. Berdiri diatas lahan seluas ± 1,8 Ha dan beralamat di Jl. Merpati, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Project Perumahan Harvest Bintaro Residence terdiri dari 84 unit Rumah dan 25 unit Ruko dengan konsep yang kurang lebihnya sama dengan Project Perumahan Kami sebelumnya, dan dilokasi terbaru ini diharapkan dapat menjadi jawaban terhadap banyaknya permintaan dan minat konsumen yang sebelumnya ingin mempunyai unit Rumah di Project Perumahan Kami tp tidak kesampaian karna unitnya yang sudah habis. Harvest Bintaro Residence mempunyai beberapa macam pilihan Tipe dan variasi luasan Tanah sehingga Konsumen dapat lebih mudah untuk memilih unit yang diinginkan.

Untuk Informasi Selengkapnya Klik :  Harvest Bintaro Residence

Harvest Bintaro

 

Kavling PIK 2

Kavling PIK2 Sedayu Indo City

Setelah sukses dengan peluncuran rumah PIK2 cluster 1, cluster 2, cluster 3, dan cluster 4, sekarang akan dipasarkan Kavling PIK2 untuk pertama kali nya

Kavling pertama yang akan dipasarkan oleh PIK2 Sedayu Indo City adalah kavling Cluster PALM SPRING
Harga Kavling PIK2 mulai dari 16 jutaan per meter

Ukuran Kavling Palm Spring mulai dari 500-1000 m2
Lokasi kavling PIK2 Palm Spring sangat strategis, view terbaik, dekat dengan danau, dekat dengan akses tol dan dekat dengan AEON MALL PIK2, Green Belt, Cluster Tepi Danau, dekat dengan CBD Area

LIMITED UNIT!!!

Kavling PIK2 Palm Spring terdapat beberapa ukuran seperti
28x35m2, 15x 35m2, 20x35m2, 20x50m2, 25x50m2, 25x35m2, dan 28x35m2

Untuk Informasi Selengkapnya Silakan Klik :  Kavling PIK 2

118_7682433orig

Bagaimana Cara Menilai Properti ?

Cara menilai properti yang paling akurat adalah sesuai dengan harga pasaran ( market value). Mengapa? Karena ada istilah “value” maka “nilai”nya itu akan ditentukan oleh banyak faktor, terutama faktor eksternal. Kontraksi “supply-demand” dimana properti itu akan selalu “berbanding lurus” dengan pertumbuhan ekonomi. Maksudnya adalah pada saat ekonomi tumbuh maka properti akan menyusul tumbuh dibelakangnya, namun sebaliknya ketika ekonomi memburuk nilai properti juga akan ambruk.

Prospek properti secara makro dapat dilihat dengan melihat tren suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Ketika suku bunga rendah artinya saat properti sedang baik-baiknya. Mengapa demikian? Karena ketika suku bunga rendah, kredit konstruksi bagi developer dan KPR akan sangat mudah terserap dan sebaliknya.

Misalnya, ada suatu properti dinilai oleh seorang penjual senilai Rp. 700 juta, itu mahal atau tidak? Kita tidak bisa menebaknya. Tapi harus ada hitung-hitungan seperti perusahan appraisal.

Ada beberapa point yang harus dinilai, setidaknya ada 3 hal utama yaitu :

1. Luas Tanah
Total Luas dikalikan harga pasaran yang berlaku, bukan NJOP, hal ini untuk mengetahui harga pasaran berapa kita harus terlibat di bisnis properti. Namun kalau belum tahu, kita bisa bertanya ke-pemain properti atau broker yang kita percaya.

2. Bangunan
Cara hitungnya adalah luas bangunan x harga bangunan, kalau dibangun SAAT ini dikalikan depresiasi. Depresiasi biasanya ada penurunan 5% tiap tahun. Jadi misalnya sebuah bangunan sudah 4 tahun berarti bangunan tersebut akan akan ter-depresiasi sebesar 20%. Dengan begitu nilai bangunan tinggal 80% dikalikan harga membangun SAAT INI (bukan harga bangun saat itu).

3. Premium Value
Misalnya ada 2 ruko 3 lantai yang bersebelahan dengan kondisi sama persis, yang A adalah milik seseorang yang tidak dikenal, sedangkan yang B milik orang yang sangat terkenal. Ruko B bisa “dijual” lebih mahal karena reputasi positif dari pemiliknya. Contoh lain, ada 2 ruko yang dibangun oleh developer yang sama dengan tipe yang sama persis, yang satu di kompleks perumahan, yang satu lagi di dekat sekolahan, bisa dipastikan Ruko yang dekat sekolahan harganya akan lebih mahal.

Kebanyakn orang menilai VALUE = PRICE = HARGA = NILAI dll, itu masih kurang mengena. Yang paling penting adalah pemahaman bahwa value memiliki suatu “persamaan” yaitu : VALUE = Total GET dibagi Total PRICE. Misalnya kita ingin produk kita VALUEnya tinggi maka ada pilihan total GET = manfaatnya diperbanyak sebanyak mungkin. Atau manfaatnya biasa-biasa saja, namun PRICEnya dipangkas habis.

Kita akan bisa bermain di 4 kuadran value sebagai berikut :

  1. Hi Get – Hi price = premium value >> barang-barang mewah dan branded, seperti LV, Versace, Ferrari, dll.
  2. Hi Get – Low price = budget value >>> barang-barang terjangkau, seperti tiket Air Asia, sabun mandi lux, dll.
  3. Lo Get – Low price = mass product = RSH , rumah sederhana sehat, dll.
  4. Lo Get – Hi Price = suicide product, sudah harganya tinggi barangnya jelek, misalnya lahan yang kurang strategis tapi di bangun apartement mewah.

Perhitungan Pph dan Bphtb

Pertanyaan :

Apakah dalam jual beli tanah dan bangunan, pihak penjual dan pembeli akan dikenakan pajak? Jika ya, bagaimana cara perhitungannya dan bagaimana cara menghitungnya?

Jawaban :

Dalam transaksi jual beli tanah, baik penjual maupun pembeli dikenakan pajak. Untuk penjual, dikenakan Pajak Penghasilan (“PPh”). Dasar hukum pengenaan PPh untuk penjual tanah adalah Pasal 1 ayat (1) PP No. 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan:

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan wajib dibayar Pajak Penghasilan

Untuk pembeli, dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (“BPHTB”), yaitu pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas UU No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Perhitungan pajaknya adalah berikut di bawah ini (dikutip dari buku “Panduan Lengkap Hukum Praktis Populer Kiat-kiat Cerdas, Mudah dan Bijak Mengatasi Masalah Hukum Pertanahan”oleh Irma Devita Purnamasari, S.H., M.Kn.,hal 24):

 

Rumus Dasar Hukum
Pajak Penjual (PPh) = NJOP/harga jual X 5 %  Pasal 4 PP No. 71 Tahun 2008tentang Perubahan Ketiga Atas PP No. 48 Tahun 1994 Tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan 
Pajak Pembeli (BPHTB) = [NJOP/harga jual –NPTKP] X 5%  Pasal 5 UU No. 21 Tahun 1997 tentang BPHTB 

Daftar istilah:

NJOP                    : Nilai Jual Objek Pajak

NJOPTKP               : Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak

NPTKP/NPOPTKP     : Nilai Perolehan Tidak Kena Pajak / Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak

Mengenai NPTKP untuk perhitungan BPHTB adalah berbeda-beda untuk masing-masing kabupaten/kota. Contoh:

DKI Jakarta    : Rp. 60.000.000,-

Kota Bekasi    : Rp. 30.000.000,-

Kota Depok    : Rp. 20.000.000,-

Kota Bogor     : Rp. 20.000.000,-

Untuk mengetahui besaran NPTKP di wilayah Anda, hubungi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak setempat.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar hukum:

1.      Undang-Undang No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

2.      Undang-Undang No. 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

3.      Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan

4.      Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan